TANJUNGPINANG (RA) - Peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpinang ke-242 yang jatuh pada 6 Januari 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk merefleksikan perjalanan panjang kota yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Melayu di Indonesia.
Mahasiswa Ilmu Hukum FISIP Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Devan Novriyandra, menilai Tanjungpinang memiliki posisi strategis dan historis yang tidak tergantikan dalam sejarah Melayu.
"Ini bukan sekadar soal wilayah atau tempat tinggal, tetapi tentang pusat ilmu, pusat pemerintahan, pusat sejarah, sekaligus pusat budaya Melayu yang telah tumbuh sejak ratusan tahun lalu," ujar Devan, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, kekuatan utama Tanjungpinang terletak pada kemampuannya menjaga warisan sejarah dan budaya di tengah arus modernisasi.
Ia berharap, di usia ke-242 tahun ini, pembangunan kota dapat terus berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai adat dan budaya Melayu.
"Modernisasi itu penting, tetapi jati diri budaya jauh lebih penting. Tanjungpinang harus tetap menjadi kota yang maju tanpa kehilangan akar budayanya," katanya.
Devan juga menyinggung warisan intelektual Melayu seperti Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang hingga kini masih relevan sebagai pedoman moral dan identitas masyarakat.
"Gurindam Dua Belas bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi nilai hidup yang masih relevan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Tanjungpinang hingga saat ini," jelasnya.
Ia berharap peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpinang tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bersama untuk menjaga sejarah, budaya, dan persatuan masyarakat.
"Selamat Hari Jadi Kota Tanjungpinang ke-242. Semoga Tanjungpinang ke depan semakin maju, semakin berkembang, dan tetap kokoh menjaga jati diri budayanya," tutup Devan. (Juli)