Pencarian

Menggali PAD Dari Lingkungan Hidup

Selasa, 24 April 2018 • 10:48:02 WIB
Menggali PAD Dari Lingkungan Hidup

BENGKALIS - Selama   ini  sektor   lingkungan   hidup   dinilai   belum  memberikan   kontribusi  besar  pada pendapatan  asli  daerah (PAD).   Padahal   ada   beberapa   sektor   yang   dapat   dijadikan pendapatan daerah khususnya dari sektor retribusi yang selama ini belum tergali dan dikelola secara maksimal.
    
Untuk mendatangkan PAD dari retribusi, tentunya harus memiliki dasar hukum atau legal formal bagi stake holder di sektor tersebut, melalui produk hukum daerah yang bernama Peraturan Daerah (Perda). Dalam pelaksanaan serta tekhnisnya di lapangan diperkuat dengan   Peraturan   Bupati   (Perbup)   sebagai   landasan   dalam   bekerja   terutama mendapatkan PAD dari retribusi sektor lingkungan hidup.
    
Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) yang bernama Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) yang sudah diserahkan ke DPRD sejak bulan Mei tahun 2017 dan   disahkan  menjadi  Peraturan  Daerah   (Perda)  pada  tanggal  03  April   2018  melalui Rapat   Paripurna   DPRD   Bengkalis.   Sebelum   disahkan   menjadi   Perda,   pembahasan Ranperda dilakukan oleh DPRD melalui Panitia Khusus (Pansus) yang ditetapkan melalui Rapat Paripurna DPRD Bengkalis.
    

Indrawan Sukmana  ST

Adapun ketua Pansus Ranperda PPLH  diketuai oleh Indrawan Sukmana  ST dari Partai Gerindra dengan Wakil Ketua Syahrial ST (Partai Golkar). Sedangkan anggota Pansus terdiri dari H.Asmara (Partai Golkar), Hendri Sag (Partai Golkar), H.Zamzami SH (Partai Amanat   Nasional),   Fakhrul   Nizam   ST   (Partai   Amanat   Nasional),   Syaiful   Ardi   (Partai Amanat Nasional), Sofyan S.PdI (PDI.Perjuangan), Daud Gultom M.Th (PDI.Perjuangan), Zamzami Harun ST (Partai Gerindra), Dr.H.Fidel Fuadi (Partai Keadilan Sejahtera), H.Abi Bahrun   SSi   (Partai   Keadilan   Sejahtera),  Nurazmi   Hasyim   ST   (Partai   Demokrat),   Irmi Syakip   Arsalan  S.Sos  (Partai   Kebangkitan   bangsa),  H.Mawardi  (Partai  Bulan   Bintang) dan Fransisca (Partai Nasdem).
    
Dalam   perjalanannya,   Pansus   Ranperda   PPLH   terus   melakukan   pendalaman  serta menggali   berbagai   hal   yang   menyangkut   dengan   pengendalian   maupun  tatakelola lingkungan hidup. Diantara kegiatan yang dilakukan Pansus dalam membahas Ranperda PPLH   adalah   melakukan   konsultasi   serta   kunjungan   ke   beberapa   tempat   yang berkompeten soal lingkungan hidup.
    
Kegiatan   yang   dilaksanakan   antara   lain,   melaksanakan   konsultasi   ke   Kementerian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan  (KLHK) di Jakarta  pada tanggal  07 sampai  10 Juni 2017. Selanjutnya berkonsultasi ke Biro Hukum dan HAM  Sekretariat Daerah Provinsi Riau tanggal 14-16 Juni 2017, melakukan kunjungan kerja ke Dinas Lingkungan Hidup Kota   Batam   Provinsi   Kepulauan   Riau   tanggal   05-08   Juli   2017.   Selain   itu   Pansus Ranperda PPLH juga melaksanakan Rapat kerja beberapa kali dengan mitra kerja Pansus Ranperda   PPLH,   khususnya   Dinas   Lingkungan   Hidup   (DLH)   kabupaten   Bengkalis, maupun Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di Bengkalis.
    
Ketua   Pansus   Ranperda   PPLH   Indrawan   Sukmana   memaparkan   bahwa   Pansus merekomendasikan enam item  yang harus dilaksanakan   oleh   pihak   eksekutif,  setelah Ranperda  PPLH  ditetapkan   menjadi   Perda.   Keenam  item   tersebut   adalah  (1)   Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH) ditetapkan sebagai Pejabat Fungsional oleh Bupati Bengkalis, (2) Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Retribusi Pembuangan Air Limbah   dan   Laboratorium,   (3)   Retribusi   Izin   Lingkungan,   (4)   CSR   Lingkungan   dan keterlibatan stakeholder, (5) Anggaran berbasis lingkungan dan (6) Untuk pelaksanaan  tekhnis, akan diatur di dalam Peraturan Bupati (PERBUP).
    
Dalam   Perda   PPLH,  sambung Indrawan,   Pansus   meminta   kepada   Pemerintah   Daerah dalam hal ini Bupati Bengkalis untuk tidak memindahkan Pejabat Fungsional Lingkungan Hidup   (PPLH),   karena   PPLH   tersebut   telah mengikuti   pelatihan   Khusus   tentang Lingkungan Hidup. Kemudian Pansus juga menyarankan kepada Organisasi Pemerintah Daerah   (OPD)   terkait,   supaya   mensosialisasikan   Perda   PPLH   kepada   perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah kabupaten Bengkalis.
    
“Dari Perda PPLH yang telah disahkan, ada enam rekomendasi, kemudian dua saran dan kesimpulan   yang   harus   segera   ditindaklanjuti   oleh   Pemerintah   Daerah.   Dalam pelaksanaan   tekhnis   nantinya   berada   di   Dinas   Lingkungan   Hidup   (DLH)   Kabupaten Bengkalis,   Badan   Pendapatan   Daerah   (BPD)   terkait   retribusi   yang   bermuara   kepada Pendapatan   Asli   Daerah   (PAD)   serta   OPD   lainnya,”ungkap   Politisi   Partai   Gerindra tersebut.
    
Disambung   Indrawan,   dalam   Perda   tersebut   memuat   sejumlah   hal   diantaranya perencanaan dan pemanfaatan lingkungan hidup daerah, pengendalian dan kerusakan lingkungan   hidup,   adaptasi   dan   mitigasi   perubahan   iklim,   perizinan   lingkungan,  pengawasan,   koordinasi,   kerjasama   dan   kemitraan,   peran   serta   masyarakat,  sanksi, adiministratif,   larangan,   penyelesaian   sengketa   lingkungan   hidup   serta   ketentuan pidana.
    
“Dalam Perda PPLH juga diatur tentang tatacara mendapatkan retribusi dari  perizinan lingkungan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku yang ditetapkan melalui Peraturan   Bupati   (PERBUP).   Ada   peluang   dari   Perda   PPLH   untuk   menggali   PAD   dari sektor retribusi, tinggal lagi keseriusan dari OPD terkait menjalankan Perda PPLH,”ujar  Indrawan.
    
Khusus mengenai perizinan lingkungan, dikemukakan Indrawan bahwa setiap rencana usaha   dan   atau   kegiatan   yang   wajib   AMDAL   atau   UKL-UPL   wajib   memiliki   izin lingkungan.   Izin   lingkungan   itu   sendiri   diterbitkan   berdasarkan   keputusan   kelayakan lingkungan   hidup   atau   persetujuan   rekomendasi   UKL-UPL.   Sedangkan   usaha   atau kegiatan   yang   tidak   wajib   dilengkapi   AMDAL   atau   UKL-UPL   wajib   membuat   surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL).
    
Untruk ketentuan lebih lanjut tentang penetapan jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL atau SPPL diatur dengan PERBUP. Izin lingkungan menjadi prasyarat   dalam   penerbitan   izin   usaha.   Dimana   dalam   hal   izin   usaha   atau   kegiatan diterbitkan   tanpa   dilengkapi   dengan   izin   lingkungan,   izin   usaha   atau   kegiatannya dinyatakan   batal   demi   hukum.   Untuk   masa   berlaku   izin   lingkungan   sama   dengan berlakunya izin usaha atau kegiatan sepanjang tidak terdapat perubahan kegiatan atau kegiatan.
    
“Disinilah ada peluang  menggali  pendapatan daerah,  karena  semua perusahaan yang terkait dengan lingkungan  harus memiliki izin usaha lingkungan. Tentu mereka harus membayar retribusi ataupun pajak dari usaha mereka tersebut,” tutup Indrawan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks