Riauaktual.com – Budaya Melayu sudah mengakar dan mendarah daging dalam masyarakat Kabupaten Pelalawan, baik yang berdomisi di daerah pesisir sepanjang aliran Sungai Kampar, atau disebut Melayu Pesisir maupun di daerah daratan yang disebut Melayu Petalangan. Dua daerah penopang terjaganya khazanah budaya Melayu di negeri Seiya sekata tanah Pelalawan ini masih istiqomah mempertahan kan tradisi tradisi lokal yang sudah turun temurun dilaksanakan dari generasi ke generasi anak jati Melayu Pelalawan.
“Budaya masyarakat Pelalawan saat ini tidak terlepas dari pengaruh kesultanan Pelalawan, tradisi tradisi itu memang sudah mendarah daging di masyarakat,” terang tokoh budaya Pelalawan Tengku Nahar.
Disebutkan Tengku Nahar, salah satu contoh mendarah dagingnya tradisi tradisi Islami yang dipengaruhi oleh keluarga Kesultanan Pelalawan dalam kehidupan masyarakat adalah Mandi Balimau, setiap memasuki bulan suci Ramadhan, keluarga Sultan selalu membuka kegiatan mensucikan diri itu dari istananya di Keluarahan Pelalawan saat ini, tradisi tersebut tetap terpelihara hingga kini.
“Mandi Balimau, Balimau Sultan, Balimau Kasai dan balimau balimau lainnya adalah budaya Islam yang di bawa oleh keluarga Sultan, tradisi tersebut masih diterapkan hingga kini, karena kegiatan tersebut sarat makna kebersamaan, silaturahmi, mensucikan diri.
.jpeg)